Rumah Berlantai Enam
Aku dan Neneku tinggal di rumah bertingkat enam.Rumah tua itu kepunyaan leluhur Nenek.Aku tidak pernah menginjakan kaki ke lantai dua sampai enam.Nenek tidak pernah mengizinkanku untuk naik keatas sana.Tanpa alasan, tentu aku jadi penasaran.
Ketika usiaku sepuluh tahun, aku nekat naik ke atas sana.Aku tahu,Nenek menyimpan kunci-kunci pintu atas di kamarnya.Saat itu Nenek sedang pergi ke pasar.Aku ingat betul kejadian hari itu.Sebab, saat itu juga ada keributan di luar rumah.
Issabel,gadis tetangga rumah kami di tangkap oleh prajurit istana."Tolooooooong..........,jangan tangkap aku.Aku bukan penyihir!" tangisnya
O iya, pada masa aku kecil, raja di negri kami sedang giat-giatnya memberantas para penyihir.Para penyihir di bawa dan di kurung di bawah tanah seumur hidup.Hiiiii.... kejam sekali raja kami itu!
Tidak ada warga yang menolong gadis itu, karena semua orang berada di dalam rumah.Termasuk aku.Tidak ada yang berani melawan pasukan prajurit kerajaan.
Nah , sekarangf kembali ceritaku tadi.Begitu Nenek ke pasar, aku buru-buru mesuk ke kamarnya.Dengan tangan gemetar,aku mengambil kunci-kunci yang tergantung di dinding.
Aku menuju ke ujung tangga. Kubuka pintu itu.Tidak lupa aku membawa lilin, siapa tahu di atas sana gelap.Dan ternyata memang gelap.Ruangan itu luas tanpa perabotan.Hanya karpet berdebu yang di gelar di tengah ruangan. Aku naik ke tingkat 3. Lagi-lagi ruangan luas menyeramkan yang sangat gelap.Juga tanpa perabotan.
Tentu saja aku lelahdan takut.Setiba di lantai enam,ternyata ruangannya sama kosongnya dengan lantai-lantai sebelumnya. Hampir saja aku turun lagi. Untunglah mataku menemukan sebuah pintu tersembunyi.Aku mencoba membukanya.Kucoba semua kunci Nenek, namun tidak ada yang pas. Karena kesal, aku menggedor-gedornya. Seketika , pintu itu terbuka. Seberkas sinar keperakan keluar dari dalam sana. Berikutnya, Sepasang tangan mencengkeram bahuku dan menariku masuk.
Oh, betapa takutnya aku waktu itu! Inilah akhir hidupku, batinku.
Begitu mataku terbiasa dengan cahaya terang , aku mengamati ruangan itu. Ada rak buku tua yang dipenuhi buku-buku tua. Ada rak yang tak kalah tuanya dipenuhi dengan botol-botol dan wadah-wadah. Di salah satu sudut, terdapat tungku menyala. sebuah kuali raksasa raksasa dengan isi menggelegak duduk di atas tungku itu.Tidak salah lagi,ini adalah ruangan milik penyihir!
Sepasang tangan lain merenggutku dari tangan yang pertama.Tangan itu memeluku erat hingga aku nyaris tidak dapat bernapas. Beginikah caraku meninggalkan dunia?
Lalu kulihat siapa yang berdiri di ruangan itu.Seorang wanita bergaun kelabu yang sedang memluku. Seorang wanita yang lebih tua , yang juga sangat kukenal. Nenek!! Ternyata Nenek tidak pergi ke pasar?
"Cek cek cek! Anak ini berul-betul bandel!" gerutu Nenek. "dia pantas di hukum".
"sudahlah,Bu," kata wanita bergaun kelabu yang terus memeluku.
Wanita itu melepaskan pelukannya. Ia berlutut di depanku sambil menatap matakulekat-lekat.
"Kau tidak kenal siapa aku?" tanyanya.
Tidak mungkin! "Ibu?" bisikku. Wanita itu mengangguk dan terisak. Ia memeluku lagi, dan aku balas memeluknya. "ku harap kau tidak membenci ibu.kau tahu, Ibu ini penyihir," kata Ibu."tapi Ibu tidak pernah melakukan hal-hal jahat seperti yang di tuduhkan Raja."
Membenci Ibu?
Bagaimana mungkin aku bisanmembenci wanita yang memeluku in.
Mungkin aku masih berumur sepuluh tahun. Namun aku dapat menangkap pancaran cintanya yang begitu besar. Setitik pun tidak ada rasa benci di hatiku.
Nenek menyuruhku untuk menyimpan rahasia itu. Tentu saja aku akan merahasiakannya. Aku juga tidak mau ibuku di bawa oleh para prajurit istana.
Tahun demi tahun berlalu, rahasia kami tersimpan dengan erat. Tiap minggu aku dengan setia mengunjungi Ibu di atas sana.Kasihan Ibu terkurung di dalam ruangan itu!
Suatu hari, terjadi keributan di negerikami. Raja kami yang kejam , berhasil di paksa turun tahta olehsekelompok orang. Seluruh rakyat sangat gembira. Demikian juga kami. Ibu akhirnya bisa keluar dari persembunyiannya . Ia bergabung dengan aku dan Nenek di lantai satu. Keluarga kami, seperti keluarga yang lain, akhirnya hidup dengan tenang.
Hanya satu yang mengganjal hatiku.Isabel, gadis malang itu, tidak pernah kembali lagi.
Sepasang tangan lain merenggutku dari tangan yang pertama.Tangan itu memeluku erat hingga aku nyaris tidak dapat bernapas. Beginikah caraku meninggalkan dunia?
Lalu kulihat siapa yang berdiri di ruangan itu.Seorang wanita bergaun kelabu yang sedang memluku. Seorang wanita yang lebih tua , yang juga sangat kukenal. Nenek!! Ternyata Nenek tidak pergi ke pasar?
"Cek cek cek! Anak ini berul-betul bandel!" gerutu Nenek. "dia pantas di hukum".
"sudahlah,Bu," kata wanita bergaun kelabu yang terus memeluku.
Wanita itu melepaskan pelukannya. Ia berlutut di depanku sambil menatap matakulekat-lekat.
"Kau tidak kenal siapa aku?" tanyanya.
Tidak mungkin! "Ibu?" bisikku. Wanita itu mengangguk dan terisak. Ia memeluku lagi, dan aku balas memeluknya. "ku harap kau tidak membenci ibu.kau tahu, Ibu ini penyihir," kata Ibu."tapi Ibu tidak pernah melakukan hal-hal jahat seperti yang di tuduhkan Raja."
Membenci Ibu?
Bagaimana mungkin aku bisanmembenci wanita yang memeluku in.
Mungkin aku masih berumur sepuluh tahun. Namun aku dapat menangkap pancaran cintanya yang begitu besar. Setitik pun tidak ada rasa benci di hatiku.
Nenek menyuruhku untuk menyimpan rahasia itu. Tentu saja aku akan merahasiakannya. Aku juga tidak mau ibuku di bawa oleh para prajurit istana.
Tahun demi tahun berlalu, rahasia kami tersimpan dengan erat. Tiap minggu aku dengan setia mengunjungi Ibu di atas sana.Kasihan Ibu terkurung di dalam ruangan itu!
Suatu hari, terjadi keributan di negerikami. Raja kami yang kejam , berhasil di paksa turun tahta olehsekelompok orang. Seluruh rakyat sangat gembira. Demikian juga kami. Ibu akhirnya bisa keluar dari persembunyiannya . Ia bergabung dengan aku dan Nenek di lantai satu. Keluarga kami, seperti keluarga yang lain, akhirnya hidup dengan tenang.
Hanya satu yang mengganjal hatiku.Isabel, gadis malang itu, tidak pernah kembali lagi.
TAMAT
Bersambung,...
BalasHapusTunggu Besok...
ide dari mana ini gin ?
BalasHapuskeren eyy ..